Rantau 1 Muara

Buku ketiga dari trilogi Negeri 5 Menara

Judul: Rantau 1 Muara

Pengarang: Ahmad Fuadi

No ISBN: ISBN 978-979-22-9473-6

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Tama, Jakarta

Cetakan pertama Mei 2013

<>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <><

Ok, meskipun dua buku sebelumnya belum sempat kubuat resensinya, tapi tak apalah kiranya bila kita mulai dengan buku paling baru dulu J

<>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <>< <><

Bertualanglah sejauh mata memandang.

Mengayuhlah sejauh lautan terbentang.

Bergurulah sejauh alam terkembang.

Kata-kata di atas akan langsung kita jumpai pertama kali ketika membaca sinopsis sampul belakang novel menarik ini. Seperti dua novel sebelumnya, dalam karya ini pun A. Fuadi membagi “mantra” ketiga untuk menjalani hidup. Karena ini buku terakhir triloginya, perlu kita ingat kembali tiga baris dayung-dayung hidup penulis sebagaimana dituliskannya dalam epilog.

Man jadda wajada                     (siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)

Man shobara zafira                    (siapa yang bersabar akan beruntung)

Man saara aladarbi washala       (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan)

Membaca novel ini terasa sangat mengasikkan dan mendebarkan. Mendebarkan bukan karena ceritanya menegangkan, tapi karena sangat menyentuh hati terutama buat yang belum nikah ^^. Oke mari kita kupas dari awal plus kata-kata yang menurut ku “WOW” banget😀

Diceritakan dalam dwilogi novel sebelumnya, bahwa tokoh Alif Fikri setelah menyelesaikan pendidikan di Pondok Madani, melanjutkan kuliah di Universitas Padjadjaran, Bandung. Selama kuliah, dia rajin hunting dan mendapatkan beasiswa ke beberapa negara; dan novel Rantau 1 Muara ini dimulai dengan setting sekembalinya Alif dari Kanada.

Berlanjut hingga kelulusan dilanjutkan dengan pengalaman mencari dan ditolak oleh beberapa lowongan pekerjaan karena kondisi perekonomian Indonesia pada masa itu (krisis moneter 1998), berbekal kemampuan dan pengalaman menulis lepas di beberapa media akhirnya Alif diterima untuk menjadi reporter di majalah Derap.

Jika kau bukan anak raja dan juga bukan anak ulama besar, maka menulislah. (pepatah dari Imam Al-Ghazali)

Dalam sub bagian Wasiat Konfusius, diceritakan Alif pergi ke perpustakaan Derap dan menemukan beberapa kata pembangkit semangat yang sayang bila dilewatkan.

Find what you want to do and do it (temukan apa yang ingin kamu lakukan dan lakukan itu).

Love what you are doing (cintai apa yang kamu lakukan).

When you love what you are doing, you do not look at the clock. It is just wonderful.

Give yourself more than expected.

No way you cannot go to the top.

(by Sidney Sheldon)

Carilah pekerjaan yang kamu cintai dan kamu tidak akan pernah lagi bekerja satu hari pun sepanjang jalan (by Konfusius)

Lebih lanjut, di Derap ini pulalah Alif bertemu dengan seorang gadis elok nan cerdas yang tak lain juga merupakan teman Raisa (teman yang membaca Ranah 3 Warna pasti ingat siapa Raisa J), Dinara. Seorang Dinara adalah orang yang cerdas dan mampu mengimbangi ritme Alif. Tentu inilah yang akhirnya menumbuhkan benih-benih indah dalam hati kedua insan ini.

Dari percakapan mereka dalam keadaan gelap lampu mati di kantor Derap, kita juga mendapat setitik gambaran tentang arti hidup dari kacamata seorang Alif.

Hidup itu seni menjadi. Menjadi hamba Tuhan, sekaligus menjadi penguasa alam. Kita awal mulanya makhluk rohani, yang kemudia diberi jasad fisik oleh Tuhan dengan tugas menghamba kepada Dia dan menjadi khalifah untuk kebaikan alam semesta. Kalau kedua peran ini bisa kita jalankan, aku yakin manusia dalam puncak bahagia. Berbakti dan bermanfaat. Hamba tapi khalifah.

Bak mendarah daging, Alif tetap saja semangat menjadi beasiswa S2 ke luar negeri khususnya Amerika. Hal ini, dipacu pula oleh pertemuan Alif dengan sahabat karib nya Randai untuk saling mengalahkan satu sama lain dalam hal kebaikan. Dengan usaha keras melebihi orang lain, thalabal ula sahirul layali (siapa yang ingin mendapatkan kemudahan, bekerjalah sampai jauh malam), dia mendaftar beasiswa Fullbright dengan bantuan Dinara yang jago bahasa inggris sebagai prove reader untuk form pendaftarannya.

Setelah melalui serangkaian proses seleksi beasiswa bergengsi ini, akhirnya berita gembira itupun tiba. Alif harus segera berangkat ke Amerika untuk melanjutkan S2 beasiswanya di George Washington University. Ketika perpisahan di bandara itulah, Alif dihadapkan pada keadaan yang sangat membingungkan perasaannya. Dinara memberikan secarik kertas bertuliskan Call Me setelah beberapa hari mengacuhkan Alif yang akan pergi dari Indonesia.

Dengan permintaan itu, hubungan Alif dan Dinara kembali lancar dan makin menguatkan perasaan Alif kepada gadis itu. Hingga ketika Ustadz Fikri memberikan petuah tentang menikah, diberanikan dirinya untuk mengajak Dinara menikah 2 bulan kedepan ketika libur semester.

Dengan berdebar hati, Alif dan Dinara mengucapkan bismillah untuk mewujudkan harapan mereka berdua berumah tangga.

Yang namanya berniat baik, terkadang ada cobaan yang diberikan untuk menguji kemantapan dan keseriusan hati kita. Hal ini juga dialami Alif, tatkala kedua insan ini niat akan melangsungkan pernikahan dalam 2 bulan kedepan, Dinara mendapatkan peluang beasiswa yang sangat diidamkannya ke Inggris. Disini kita bisa lihat keseriusan Alif mengejar jodohnya. Setelah perang dingin karena pembicaraan pernikahan dan beasiswa Dinara, Alif (mengikuti petuah Kiai Rais, harrik yadak (gerakkan tangan,buat aksi, supaya ada pergerakan)) melakukan tindakan besar untuk membuat hubungan keduanya membaik.

Can I reserve a return ticket to Jakarta?

Saat itu juga diputuskannya untuk terbang pulang ke Jakarta, dengan atau tanpa persetujuan Dinara. Dengan begitu keseriusannya untuk menikahi gadis itu tak dapat diragukan lagi.

Malam harinya, Dinara ternyata juga memutuskan untuk menunda beasiswa nya untuk menikah terlebih dahulu dan menemani Alif di Washington DC sambil mencari-cari peluang beasiswa juga disana.

Hari berbahagia itupun tiba dan setelah itu mereka berdua terbang dan tinggal di Washington DC, tempat Alif harus menyelesaikan beasiswa S2nya di GWU.

Hampir 3 tahun tinggal di Washington DC, mereka memutuskan untuk pulang ke Indonesia for good. Setelah menolak peluang bekerja di media international besar di London, Inggris karena mantap (berdasarkan diskusi dengan Dinara dan sholat istikharah) untuk pulang ke Indonesia. Ternyata rejeki lain juga menunggu mereka untuk menjadi perwakilan media ABN di Indonesia dengan kompensasi sama persis ketika mereka bekerja di Amerika. Rejeki memang gak akan pergi kemana.

Terima kasih Cinta, sudah menjadi kawan merengkuh dayung yang tangguh. Kata Alif ke Dinara diatas pesawat yang membawa mereka pulang ke Indonesia (transit London 1 bulan, untuk mereka menjelajah benua Eropa).

Mantra ketiga “man saara ala darbi washala” (siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan) menuntun perjalanan pencarian misi hidup Alif. Hidup hakikatnya adalah perantauan.

Rantau 1 Muara bercerita tentang konsistensi untuk terus berkayuh menuju tujuan, tentang pencarian belahan jiwa, dan menemukan tempat bermuara. Muara segala muara.  

One thought on “Rantau 1 Muara

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s